The Economist Soroti Ibu Kota Nusantara, Ada Apa?

SHARE  

Suasana proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara terus dikebut. Ditargetkan mulai bulan Juli 2024, Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk PNS dan PPPK, bisa mulai menempati kawasan ibu kota baru, Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Kamis, (19/1/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara terus dikebut. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia РIbu Kota Nusantara (IKN) telah menyedot perhatian banyak media asing. Terbaru, media ternama asal Inggris, The Economist, turut menyoroti pemindahan ibukota RI dari Jakarta ke kota itu.

Dalam artikel berjudul ‘The World Is In The Midst of A City-building Boom’ yang dirilis Kamis lalu, The Economist membedah bagaimana munculnya fenomena kota-kota baru muncul di dunia. Baik untuk ibu kota baru atau juga pembangunan pusat ekonomi baru.

PILIHAN REDAKSIKrisis Argentina Makin Ngeri, Ramai Warga Makan SampahKronologi India Ketok UU “Singkirkan” Warga Muslim, Ini yang TerjadiKorsel Tiba-Tiba Mohon-Mohon ke RI soal Ini, Ada Apa?Anies Buka Suara Soal RUU DKJ, Soroti Peran Baru Wapres!

Indonesia dan Mesir disebutkan telah membangun kota baru untuk pemindahan ibu kotanya. Untuk Indonesia, IKN adalah lokasi baru sementara Mesir menggeser sedikit ibukotanya ke wilayah urban baru di Kairo.

“Di Indonesia, para pekerja menebangi hutan untuk ibu kota baru, Nusantara. Bagi para pemimpin seperti Joko Widodo (Jokowi) dari Indonesia dan Abdel Fattah El Sisi dari Mesir, ibu kota baru menjanjikan warisan, banyak lapangan kerja, dan kemampuan untuk dekat dengan pemilih,” tulis media itu, dikutip Kamis (14/3/2024).

Selain kota baru yang dibangun karena bergesernya ibu kota, ada juga tempat baru yang dibangun untuk memacu kegiatan ekonomi. Contohnya adalah NEOM di Arab Saudi, Belmont di Amerika Serikat (AS), Milton Keynes di Inggris, dan Tatu di Kenya.

“Sejarah menunjukkan bahwa banyak hal yang akan gagal. Namun jumlah dan keragaman permukiman yang sedang dibangun menunjukkan bahwa beberapa permukiman akan berhasil,” tambah laman itu.

Walau ada yang pesimis, media itu menulis pembangunan kota baru mendapatkan pujian dari akademisi Harvard, Edward Glaeser. Ia menggarisbawahi bahwa aglomerasi uang dan bakat menjadikan masyarakat lebih kaya, lebih pintar dan lebih hijau.

“Karena perusahaan semakin dekat dengan pelanggannya dan orang-orang semakin dekat dengan pekerjaan mereka, kota-kota pun berkembang melahirkan pertumbuhan ekonomi,” kutip The Economist memuat pernyataan Glaeser.

Di sisi lain, pembangunan kota baru juga dapat menyelesaikan tekanan dan masalah urban yang dialami kota-kota yang saat ini telah ada. Menurut proyeksi PBB, masalah ini akan bertambah buruk seiring bertambahnya jumlah penduduk perkotaan akan menembus sebesar 2,5 miliar jiwa pada tahun 2050.

“Para pembangun berharap kota-kota metropolitan baru akan membantu meringankan tekanan tersebut,” tambah laporan The Economist.

Meski begitu, ada juga tantangan yang dihadapi kota baru. Ini terkait dengan biaya pembebasan lahan, infrastruktur penting seperti listrik dan utilitas lain serta akses transportasi, dan juga pembangunan

The Economist menyebut bahwa dana yang dibutuhkan untuk membangun kota dan infrastrukturnya sangatlah besar. Mesir telah mengalami hal ini, di mana pembangunan ibu kota baru senilai US$ 60 miliar (Rp 934 triliun) telah menambah tekanan pada perekonomian negara itu yang saat ini melemah.

“Beberapa infrastruktur, seperti listrik, internet, dan jalan raya, harus sudah tersedia sebelum penduduk pertama tiba, yang berarti biaya di muka bisa sangat besar,” papar lamanhttps://perjuangangila.com/ itu lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*